Keluarga Kecil dari Cipinang

Keluarga Kecil dari Cipinang

Selasa 31 Desember 2013, tepatnya di penghujung tahun 2013. Kebanyakan orang akhir tahun sibuk dengan berbagai acara, ada yang pergi ke mall, pasar untuk beli bahan untuk pesta bakar-bakar, ada yang jalan-jalan ke puncak, ada juga yang pulang kampung berkumpul dengan keluarga dan masih banyak aktivitas lainnya.

Seperti biasa kalau di penghujung tahun pasti hujan terus menyerang, tapi tak menyurutkan mereka yang ingin bersuka cita merayakan. Hujan hanyalah air, tahun baru hanya sekali setiap tahunnya kata mereka. Padahal yang bergantikan hanya angka, bulan, tanggal dan hari sama aja. Sama halnya dengan anak-anak muda lainnya, rasa ingin bersenang-senang bersama keluarga juga ada.

Tapi di penghujung tahun 2013 aku lewati dengan hal yang berbeda, aku diberikan kesempatan untuk berbagi motivasi di Lapas Cipinang Narkotika, Jakarta. Ini kesempatan kedua yang diberikan kepadaku. Pagi itu, hujan deras terus menyerang tanah Ibu Kota dan daerah penyangganya tepatnya Kota Tangerang, hujan yang dari malam hari hingga siang hari hampir tidak reda sama sekali.

Pagi-pagi hujan deras, lebih enak tidur sehabis sholat. Pikiran itu yang terus ada dalam otakku, apalagi saat itu senin malam aku habis berbagi di sebuah kampus teman, dan mata kiriku juga sedang sakit. Rasanya nikmat banget kalau dipagi ini aku bisa beristirahat agak lama, agar rasa capek dan mataku bisa sembuh. Kalimat itu terus yang hadir dalam pikiranku. Coba deh, kalo ini yang teman-teman rasakan? (jawab dalam hati aja ya…)

Hati dan pikiran ku terus berperang demi mendapatkan sebuah tindakan. Rasa capek dan sakit mata yang kurasakan terus membuat pikiran kearah negatif dan tidak menjalankan kesempatan untuk berbagi. Perang antara hati dan pikiran berlangsung cukup lama dan alot, di sebuah istana kecil alias kosan, hehehe. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bergegas dan berangkat ke keluarga kecil di Lapas Cipinang untuk berbagi motivasi bersama teman-teman Narapidana Narkotika.

Hujan deras yang mengguyur jalanan tak menyurutkan langkahku untuk terus maju demi kebaikan, berharap mereka (Napi) dapat berubah dan mampu bangkit serta memilih lingkungan yang tepat. Memakai sandal jepit sebagai alas kaki, aku langsung tancap gas. Singkat cerita sampailah di Lapas cipinang. Tak lama kemudian aku bersiap untuk berbagi dan langsung berbagi motivasi.

Rasa capek, sakit mata seolah hilang dengan sendirinya, melihat para napi yang bersemangat untuk belajar. Dalam sesi motivasi aku berbincang dengan mereka, ternyata mereka orang yang punya harapan besar. Tapi mereka salah arah karena tidak ada yang memberikan bimbingan, lewat sesi yang tak lama dan secuil ilmu yang aku punya, Aku berharap semoga ini mampu membuka cakrawala mereka untuk hidup yang lebih baik lagi.

Banyak dari mereka yang sudah punya usaha, tapi tak sedikit juga yang hanya kerja serabutan.

“kalau masalah cari uang, saya bisa mas, saya punya bengkel motor, yang belum bisa itu bekal untuk akhirat  mas”, kata salah satu napi

Secara tidak langsung, mereka salah menempatkan diri dalam lingkungan ataupun komunitas. Semoga ilmu yang hanya secuil mampu memberikan energy positif yang akan merubah mereka setelah keluar dari rumah kecil ini. Inilah tugas kita sebagai orang yang mempunyai ilmu, saatnya kita berbagi untuk masyarakat agar tidak salah arah dan mereka mampu berdiri dengan tegap dalam kebaikan. Yang menjadi persoalan, terkadang kita enggan berbuat karena tidak menghasilkan. Sedikit motivasi dari kita akan tumbuh sejuta harapan besar dalam hidup mereka.

Begitulah akhir tahun yang aku lalui kemarin bersama keluarga kecil dari cipinang. Semoga kita terus mampu memberikan energi positif untuk kebaikan di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *