Bey-Bey Ramadhan?

Bey-Bey Ramadhan?

Ramadhan telah meninggalkan kita sejak 4 hari yang lalu. Bagaimana perasaan Anda? Senang atau sedih? Kecewa atau bahagia? Entahlah, hanya Anda dan Allah-lah yang tahun.

Ramadhan, sebuah bulan yang paling dinanti orang beriman. sebelas bulan lamanya kita menanti hadirnya bulan tersebut. Bulan dimana amalan-amalan yang balasannya dilipatgandakan. Kebaikan sekecil apapun tidak terhindarkan dari balasan olehNYA. Membaca Alquran, 1 huruf dibalas 10 kebaikan. Meskipun kita membacanya salah sekalipun. Belum amalan lainnya yang jauh lebih dahsyat seperti malam Lailatul Qodar, malam yang kebaikannya lebih baik daripada 1000 bulan. Nikmat sekali memang di bukan ramadhan.

Namun, ketika bulan itu hadir, apakah kita telah melaksanakan perintahNYA dengan sekuat tenaga dan sebaik-baiknya?  Sekali lagi, entahlah. Karena itu hanya Anda dan Allah-lah yang tahu.
.
.
Kini ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Pernahkah kita berpikir kalau ramadhan kali ini adalah ramadhan terakhir kita? Semua menyadari bahwa nyawa tidak ada yang mengetahui akan diambil oleh sang Pemiliknya. Akankah Ramadhan yang baru saja meninggalkan kita, sudah kita manfaatkan dengan semaksimal mungkin untuk mendekatkan diri pada Illahi?
.
.
Sahabat, ramadhan memang telah meninggalkan kita semua. Tapi masih tersisa Syawal yang sedang kita jalani. Jika ada amalan dengan pahala yang besar, manfaatkan. Karena belum tentu kita ketemu ramadhan tahun depan.
.
.
Mari tafakuri apa yang telah kita jalankan selama Ramadhan jika belum maksimal, mari kita maksimalkan kembali di bulan Syawal. Ada amalan yang pahala juga sangat dahsyat.
.
.
Ibnu Rojab rahimahullah menyebutkan beberapa manfaat puasa enam hari di bulan Syawal, di antaranya:
.
.
1. Berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan akan menyempurnakan ganjaran berpuasa setahun penuh.
.
.
2. Puasa Syawal dan puasa Sya’ban seperti halnya shalat rawatib qobliyah dan ba’diyah. Amalan sunnah seperti ini akan menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada dalam amalan wajib. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dalam amalan wajib. Amalan sunnah inilah yang nanti akan menyempurnakannya.
.
.
3. Membiasakan berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena Allah Ta’ala jika menerima amalan hamba, maka Dia akan memberi taufik pada amalan sholih selanjutnya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan selanjutnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula orang yang melaksanakan kebaikan lalu dilanjutkan dengan melakukan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”
.
.
4. Karena Allah telah memberi taufik dan menolong kita untuk melaksanakan puasa Ramadhan serta berjanji mengampuni dosa kita yang telah lalu, maka hendaklah kita mensyukuri hal ini dengan melaksanakan puasa setelah Ramadhan. Sebagaimana para salaf dahulu, setelah malam harinya melaksanakan shalat malam, di siang harinya mereka berpuasa sebagai rasa syukur pada Allah atas taufik yang diberikan. (Disarikan dari Latho’if Al Ma’arif, 244, Asy Syamilah).
.
.
Sahabat, yuk kita saling mengingatkan, saling membantu, saling menyebarkan kebaikan, dan saling memaafkan. Semoga kita bisa berjumpa diramadhan yang akan datang dengan predikat iman yang semakin meningkat.
.
.
.
.
.
Salam hangat
Harlan Purwanto
Kaizen Consultant
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Source picture by Google.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *